KIAT Menghadirkan Guru Unggul

KIAT Menghadirkan Guru Unggul

Guru Unggul, Anak Didik Hebat 

KIAT Menhadirkan Guru Unggul
#Guru Unggul, Anak Didik Hebat 

Kami mendapat kabar gembira dari salah satu alumni KIAT (Kuliah Ilmu Agama Terbuka) angkatan pertama, yaitu Ustaz Ahmad Azwar S.Pd., bahwa peserta didiknya meraih juara dalam lomba Al-Qur’an.

Beliau dan istrinya, Ustazah Nadia S.Pd., adalah pengajar Al-Qur’an. Pada tahun 2022, mereka mengikuti program pembelajaran di KIAT yang difokuskan pada peningkatan ilmu dan kompetensi, terutama dalam bidang Tahsin Tahfiz, Bahasa Arab (Baca Kitab Gundul), dan Ilmu Syari’i.

Pada awal tahun 2022, keduanya antusias untuk mengikuti perkuliahan di KIAT, meskipun biaya tidak menjadi halangan karena mereka mendaftar program beasiswa yang disediakan bagi pengajar Al-Qur’an.

Selama proses belajar, keduanya sangat bersemangat dalam mengikuti perkuliahan, bahkan membawa anak-anak mereka ke kampus untuk meningkatkan kualitas ilmu agama Islam, terutama dalam bidang Al Qur’an  Bahasa Arab & Ilmu Syar’i. 

Keduanya termasuk di antara mahasiswa yang menerima beasiswa, dan bersyukur karena mendapat dukungan beasiswa hingga menyelesaikan program selama 2 tahun.

KIAT mendapatkan dukungan dari para donatur untuk para pencari ilmu syari’i sejak tahun 2022 hingga sekarang. Semoga Allah membalas kebaikan para donatur dengan ganjaran Surga-Nya.

Pada awal tahun ajaran ini, kami masih memberikan beasiswa kepada 10 orang yang sedang belajar, baik di program dasar Bahasa Arab maupun Ilmu Syari’i. Kami bersyukur karena sudah ada satu orang  yang menjadi donatur tetap untuk mendukung kebutuhan ini. Semoga semakin banyak yang bersedia berpartisipasi dalam mencetak guru-guru unggul dengan menjadi donatur tetap. Jazakumullah Khoir . 

Izinkan kami sampaikan ucapan terimakasih kepada para donatur dan ini beberapa testimoni dari mahasiswa mahasiswi yang mendapatkan beasiswa.

“Alhamdulillah saya sangat bersyukursekali telah mendapatkan program beasiswa ini, bisa membantu saya yang sangat ingin  mendalami agama dalam membaca kitab gundul dan bahasa arab…jazakkallah kepada para donatur yang membiayai pendidikan, semoga pahala dari Allah SWT selalu mengalir dan diberikan keberkahan hidup di dunia dan di akhirat… Aamiin (Ahmad Azwar Alumni KIAT 1)

Alhamdulillah, sangat bersyukur menjadi salah satu mahasiswi yang mendapatkan beasiswa. Terasa sangat membantu sekali untuk berusaha mengikuti program KIAT yang Insyaa Allah sampai akhir semester. Menjajaki semester 4 semakin semangat dengan mata kulian yang makin “menantang”. 
Jazakumullahu khoiron dan terima kasih kami ucapkan kepada para donatur yang teah mensupport penuh program ini.  (Nadia Sepdiana Alumni KIAT 1)

Alhamdulillah Program kiat sangat bermanfaat terutama untuk mengupgrade diri dlm ilmu bhs arab dan ilmu agama lainnya menambah motivasi dalam belajar,kadang rasa lelah,merasa tak sanggup karena usia yg tak lg muda tp terus mencoba memperbaiki  niat lillah dan menyakinkan diri bahwa salah satu jalan menuju syurgaNYA allah dengan menuntut ilmu dan mengamalkannya sesuai al qur’ an dan sunnah. ( Susi, Mahasiswi kelas Mulazamah Ilma Syari)

Bagi yang ingin Support program kami menjadi donatur baik bulanan atar semampunya bisa hubungi Ust.Fajar Sidik Lc.S.Pd Wa 087723722436

Support Dakwah  & Pendidikan 
BSI 7281102804 
a.n. MIMS FOUNDATION

Jazakumullah Khoir Wa barakallahu fykum. 

Komunikasi Ala Nabi ﷺ Part 3

Dalam islam, komunikasi yang baik tidak hanya ditinjau dari satu aspek, melainkan secara menyeluruh dari segala aspeknya. Dalam hal ini, ada empat keunggulan komunikasi ala Nabi:

  1. Pilihan Kata

Pemilihan kata-kata yang baik dan santun menjadi kunci tercapainya tujuan dan terwujudnya komunikasi yang efektif.

Amarah yang berkobar-kobar bisa padam ketika berhadapan dengan sikap santun dan tutur kata yang lembut. Sebaliknya, kasih sayang dapat berganti menjadi kebencian, kekerabatan menjadi permusuhan akibat tutur kata yang kasar dan menusuk perasaan. Allah menekankan hal ini demi menjaga keharmonisan hubungan di seluruh lapisan masyarakat. Allah Ta’alaberfirman:

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلإنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا

“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sungguh syaitan itu (selalu) menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sungguh syaitan adalah musuh yang nyata bagi manusia.’” (QS. Al-Isra: 53)

Tutur kata yang santun dan lembut juga dapt menjadi kunci sukses keberhasilan hidup kita. Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) kamu berlaku lemah dan lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran:159)

Ibnu katsir rahimahullah menjelaskan: “Maksudnya, ‘Andai engkau bertutur kata buruk dan berhati kaku, niscaya umatmu akan menjauh dan meninggalkanmu. Namun, Allah menyatukan mereka dibawah bimbinganmu, dan Allah melemahlembutkan perilakumu untuk memikat hati mereka.’ Hal ini selaras dengan penuturan Abdullah bin Amr Al-Ash:
“Aku menemukan gambaran karakter Rasulullah dalam kitab-kitab suci terdahulu sebagai berikut. Beliau tidak bertutur kata kasar, tidak kaku, dan tidak suka berteriak-teriak di pasar. Beliau juga ridak suka membalas dendam, justru lebih suka memaafkan dan melupakan.”

Bersambung….

Komunikasi Ala Nabi ﷺ Part 2

Bagian 2

Dalam islam, komunikasi yang baik tidak hanya ditinjau dari satu aspek, melainkan secara menyeluruh dari segala aspeknya. Dalam hal ini, ada empat keunggulan komunikasi ala Nabi:

2.Kandungan maknanya
Harus disadari bahwa setiap kata yang terucap pasti diminta pertanggungjawabannya. Kesadaran terhadap hal tersebut, akan mendorong kita untuk lebih waspada dan selektif dalam bertutur kata. Orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir akan berbeda dengan orang selainnya. Saat sebagian orang menduga ucapannya sekadar untuk mengisi waktu luang, orang yang beriman tetap meyakini bahwa ucapannya termasuk bagian dari amalan.

Tidak ada satu huruf pun yang keluar dari lisan seseorang yang luput dari hisab. Semuanya ditulis dan mempunyai dampak, bisa positif dan bisa negatif bagi keselamatan diri kita di dunia maupun di akhirat. Allah Ta’ala berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf:18)

Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan agar selalu waspada terhadap kata yang terucap :

“Bisa jadi seorang hamba mengucapkan suatu kata yang tidak dia pedulikan maknanya, namun ia menjerumuskannya ke neraka melebihi jarak timur dan barat.” (HR. Bukhari dan Muslim

Bersambung..

Komunikasi Ala Nabi ﷺ

Dalam islam, komunikasi yang baik tidak hanya ditinjau dari satu aspek, melainkan secara menyeluruh dari segala aspeknya. Dalam hal ini, ada empat keunggulan komunikasi ala Nabi:

1. Tujuan atau niat

Hati yang baik dan itikad yang baik adalah kunci utama komunikasi. Baiknya niat menjadikan setiap kata yang terucap memberikan kedamaian bagi orang yang mendengarnya. Karena itu, kesucian batin dari kedengkian dan kebencian menjadi idaman bagi setiap orang.

Kesucian batin dalam menjalani kehidupan ini begitu penting, sampai-sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu memintanya kepada Allah :

“Ya Allah, limpahkanlah ketakwaan kepada jiwaku, dan sucikanlah jiwaku, karena Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya dari noda. Engkaulah pemelihara jiwaku dengan segala kenikmatan, dan Engkau pula penguasanya.” (HR. Muslim)

Niat atau tujuan, walaupun jauh tersembunyi dalam hati, berperan vital dalam segala urusan manusia. Kehendak yang baik tercermin dari tindakan yang positif, sebagaimana kehendak yang buruk terpancar pada tindakan yang buruk.

Beliau bersabda:

“Ketahuilah bahwa dalam ragamu terdapat segumpal daging. Apabila segumpal daging ini baik, maka seluruh ragamu akan baik. Dan apabila segumpal daging ini rusak, maka seluruh ragamu akan rusak. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Salah satu alasan mengapa harus mempertimbangkan tujuan berkomunikasi adalah demi efisiensi berbagai potensi diri sendiri. Waktu, tenaga, pikiran, dan ruang adalah sebagian dari nikmat Allah yang wajib digunakan seefektif mungkin.

“Dua kenikmatan yang kebanyakan manusia menyia-nyiakannya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Kerugian besar akibat banyak bicara tanpa maksud dan yang jelas pasti dapat dirasakan. Betapa seringnya berkomunikasi sekadar mengisi waktu luang, tidak memiliki tujuan yang jelas. Bukan hanya menyia-nyiakan potensi diri, bahkan sering kali menuai dampak negatif dari pembicaraan yang isinya omong kosong.

Dengan perencanaan yang matang sebelum berkomunikasi berarti kita telah memegang kunci sukses dalam hidup ini. Sebagaiamana petuah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz bin Jabal:

“Maukah engkau aku ajarkan kunci segala urusan?” Spontan Mu’adz menjawab: “Tentu saja.” Beliau pun memegang lisannya dan berpesan: “Hendaklah kamu menahan anggota tubuh yang satu ini.” Ingin mengetahui lebih jauh, Mu’adz kembali bertanya: “Wahai Nabi Allah, haruskah kita bertanggung jawab atas setiap ucapan kita?” Mendengar pertanyaan ini, Beliau menjawab: “Betapa meruginya ibumu, hai Mu’adz. Adakah yang menyebabkan manusia tersungkur dalam neraka selain tutur kata mereka sendiri?” (HR. At-Tirmidzi) 

Bersambung …